Senin, 06 Februari 2017

CINTA ADALAH ANUGRAH

Andai aku dapat mengulang waktu, aku memilih untuk tidak mengenalmu lebih jauh. Aku akan memilih untuk diam, menghindari tatapan matamu yang seakan membius relung jiwaku. Memilih untuk tidak meniti wajahmu dan mendapatimu tersenyum tulus padaku. Dan memilih untuk duduk berjauhan denganmu, agar suaramu tak terus menggema di telingaku.
Bagaimana mungkin aku selalu mengingat senyummu di setiap malamku, mengingat setiap detail pembicaraan kita, membuka dan menutup kembali sosial media milikmu, dan tersenyum saat melihat kembali foto kita bersama?
Kita memang tak banyak berbicara. Sering kali kita terhipnotis oleh waktu. Diam seribu bahasa walau kita duduk bersebelahan. Hanya mata yang terkadang saling menatap.
Lalu, mengapa sekarang aku merasakan ada hal yang berbeda?
Dulu, saat kau menatapku, aku akan membalasnya dengan senyum. Kini, aku selalu memalingkan wajahku. Takut jika kau menyadari bahwa aku sering kali menatapmu begitu dalam. Kala itu, setiap sapaan yang kaututurkan, tak begitu kuacuhkan. Kini, aku berharap sapaanmu menghiasi hari-hariku.
Kita terbiasa bersama, hanya rasa ini yang tak lagi sama. Aku selalu merindukan saat-saat bersama denganmu. Merindukan gelak tawamu yang terdengar nyaring namun lembut di telingaku, merindukan perhatian yang begitu tulus darimu, merindukan memandangi sosokmu yang bagaikan oasis bagiku.
Jika boleh memilih, lebih baik aku tak jatuh cinta. Karena jatuh cinta itu sakit. Dan memilikimu adalah hal yang mustahil bagiku. Kita bagaikan terperangkap dalam sebuah labirin. Begitu sulit untuk saling menemukan satu sama lain. Bahkan, kita tak akan pernah tahu apakah waktu akan mempertemukan kita. Atau kita hanya akan mencari jalan keluar dan kebahagiaan masing-masing.
Waktu memang terkadang salah menentukan kapan kita harus jatuh cinta. Namun, cinta tak pernah salah. Karena ia mengajarkanku bahwa mencintaimu adalah keajaiban. Dan walaupun sakit, aku percaya bahwa cinta adalah anugerah dari-Nya.

Rabu, 04 Januari 2017

Dilema Seniman Jatuh Cinta pada Gadis Berhijab

Saya pernah jatuh cinta pada seorang gadis. Wajahnya cantik, berhijab, dan senyumnya manis. Pertama kali saya mengenalnya yaitu lewat tatapan mata, pada waktu saya dan teman teman saya mengadakan pameran lukis. Sekelebat mata saya tak bisa menolaknya. Siapa yang tak jatuh cinta padanya? Rasanya Tuhan telah menjatuhkan Bidadari Surga di hadapan mata.
Saya takut jika sampai jatuh cinta kepadanya terlalu dalam. Ya, saya memang seorang seniman sekaligus pecundang yang tak berani mengungkapkan perasaan. Mau bagaimana lagi lha wong dia sudah punya pendamping, terlebih lagi saya ndak mau menyakiti hati orang-orang yang juga menaruh hati padanya, karena saya pun mengerti bagaimana rasanya tersakiti.

Kita begitu dekat, tapi hati kita tidak terikat. Agar tak ada yang terbebani, saya putuskan untuk mencintainya dalam keikhlasan, merelakan dia lewat gambar dan tulisan.
Kami sering berkesenian bersama-sama, dan bertemu dengannya di ruang seni merupakan sebuah pencapaian yang sangat luar biasa bagi saya. Hanya melihatnya dari kejauhan saja saya sudah merasa bahagia, apalagi dapat duduk dan makan bersama di bawah sinar rembulan dan bintang-bintang yang berjatuhan, serasa kami adalah pasangan yang sholeh dan sholehah.

Selain pandai dalam menggambar, ternyata dia juga seorang yang agamis, sangat patuh terhadap norma-norma agama, membuat saya harus memutar otak 360 derajat untuk menemukan cara mendekatinya. Dari cara pertama, tentang segala hal yang berkaitan dengan seni, hingga mengharuskan saya berubah menjadi seorang yang sholeh nan agamis. Sungguh dia memang seorang Bidadari Surga sampai mampu mengubah seniman yang sak-sak’e, luweh-luweh, arogan, sampai menjadi seorang yang rapi dan agamis namun tetap artsy.
Kini saya sudah tidak dapat lagi berjumpa dengannya, bahkan berkomunikasi dengannya pun tidak bisa, lha wong akun sosial media saya sudah diblokir olehnya. Saya tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Mungkin semua berubah setelah negara api menyerang

Saya telah bertemu seorang Bidadari Surga yang cantik, berhijab nan artsy. Sesungguhnya saya mungkin telah jatuh hati padanya. Namun, saya sadar bahwa dia sudah memiliki pendamping dan terlebih lagi saya tidak ingin menyakiti hati orang-orang yang juga menyukainya. Karena saya tahu bagaimana rasanya tersakiti, dan rasanya cinta yang tak terbalas.

Pesan saya kepada Bidadari Surga:
Mungkin ekspetasi saya terlalu besar, berharap kepada Tuhan kaulah orang yang tepat untuk saya perjuangkan. Tapi sesungguhnya saya jatuh hati kepadamu, walaupun kamu telah memiliki pendaping hati, ha mbok prekk!! Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi yang saya katakan ini jujur. Saya suka dengan kepribadianmu yang apa adanya. Sungguh kau Bidadari Surga yang sholehah nan artsy, yang pernah saya jumpai di dalam mimpiku. Percayalah wahai Bidadari Surga, bahwa cinta akan bersemi di ruang seni.


Senin, 02 Januari 2017

SISA AKHIR TAHUN 2016

Di tahun 2016, banyak kisah-kisah yang berlum sempat tertuliskan ataupun tergambargan olehku. Mulai dari senang, susah, bahagia lan sak piturutipun. 2016 adalah tahun di mana saya bertemu dengan orang-orang yang baru dari dalam kota maupun luar kota, bahkan di tahun 2016 mungkin juga membawaku ke hati yang baru, mungkin ini sudah takdir Yang Maha Kuasa sehingga aku dapat bertemu dan mengenalnya. Mengapa bisa dikatakan takdir..? lhawong saat ini tak ada wanita lain lagi yang kukenal dekat dan akrab. Semua wanita yang ku kenal sebelum-sebelumnya sudah pergi menjauhiku tanpa kutahu sebabnya

Cinta memang tak butuh alasan. Kecuali kau mencari-carinya. Bisa pada kecantikan, akal, budi,
bahkan harta. Ndak ada yang salah memang soal itu. Tapi, kenyataannya aneka hal itu justru muncul pasca cinta itu hadir.

Misalnya begini, saya bertemu seorang yang cantik. Lalu, dengan keberanian yang nanggung saya ajak kenalan. Di sini, mungkin saya mengajak kenalan karena dia cantik. Padahal ya ndak juga. Banyak kok cewek cantik yang saya biasa-biasa saja. Ndak berhasrat buat kenalan.
Kejadian itu membuktikan, kalau yang mendorong saya adalah ketertarikan yang muncul secara spontan. Tanpa alasan. Tanpa tedeng aling-aling. Cukup hati yang berdesir saja.
Lalu pada akhirnya saya ketahui namanya (saya tidak akan menyebutkan namya di sini), dan ndilalah  dia sudah punya kekasih. Yang jelas hati saya sudah berdesir saat bertemu dia. Bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu berterbangan  dan saya terus-menerus kepikiran.
Apa itu juga namanya cinta? Belum tentu juga sih sebenarnya. Melainkan, keteguhan hati saya untuk tetap stalking dia dan menyusun stratak untuk mendapatkannya, itulah cinta. Apa pun keadaannya, sekali memilih, akan terus dipertahankan.
Dia  memang gadis yang sangat mempesona. Wajahnya teduh seperti langit pagi saat matahari masih melongokkan setengah wujudnya. Senyumnya menenangkan, bak senyum debt collector yang mengikhlaskan utang kita. Dan, tatapan matanya tajam penuh kepercayaan.
Dengan perupaan demikian, lelaki mana yang tak kepincut? Tapi, saya tak punya daya, untuk mengelak dari nikmat Tuhan yang jelas nyatanya. Betapa beruntungnya saya, Tuhan telah mempertemukanku dengan bidadari tanpa sayap yang ada di dunia yang fana ini..ohh subhanallove

Hanya saja, saya sadar dia sudah ada yang punya. Bukan single lagi. Bukan jomblo lagi. Terlebih lagi, saya juga takut..saya takut kalau ndilalah menyakiti hati orang lain, menyakiti orang-orang yang juga menaruh rasa terhadapnya
Tak apa, Cinta tetaplah cinta. Sekarang atau nanti desirannya tentu sama. Gadis atau janda tak ada beda. Untuk itu, saya bakal menunggunya hingga waktu yang ditentukan.
saya menunggumu, Hanya saja, kalau bisa jangan lama-lama. Menunggu itu musuh semua manusia, sebab menunggu seringkali bikin bosan. Sialnya, tak ada orang yang mau mati sebab bosan. Oh ya, saya sesungguhnya berterimakasih sama kamu. Sebab ada kamu, saya jadi tambah rajin beribadah, dan melanyunkan do’a-do’a kerinduan kepada Tuhan YME. Lhawong Cuma kamu seorang yang selalu kubicarakan dengan Tuhan, di sela-sela sholat dan di sepertiga malam
Sebagai bonus, bukan mustahil insya Allah saya bakal melamarmu secara langsung, jujur, sederhana dan apa adanya .Ah, mungkin saya ini terlalu muluk-muluk rupanya. Kok sudah ngomong soal lamar saja? Harusnya dekat saja dulu. Ta’aruf. Bukankah begitu?Ya, namanya juga doa,. Harus tinggi, harus muluk. Kalau pendek dan sederhana saja, mungkin namanya al-fatikhah. Sudahlah. Lama-lama saya merasa kian banyak bicara ngawur, dan ora mutu. Saya  takut nek ndilalah kamu illfeel. Jadi, saya cukupkan sampai di sini saja