Saya pernah jatuh cinta pada seorang gadis.
Wajahnya cantik, berhijab, dan senyumnya manis. Pertama kali saya mengenalnya
yaitu lewat tatapan mata, pada waktu saya dan teman teman saya mengadakan
pameran lukis. Sekelebat mata saya tak bisa menolaknya. Siapa yang tak jatuh
cinta padanya? Rasanya Tuhan telah menjatuhkan Bidadari Surga di
hadapan mata.
Saya takut jika sampai jatuh cinta kepadanya terlalu
dalam. Ya, saya memang seorang seniman sekaligus pecundang yang tak berani
mengungkapkan perasaan. Mau bagaimana lagi lha
wong dia
sudah punya pendamping, terlebih lagi saya ndak mau
menyakiti hati orang-orang yang juga menaruh hati padanya, karena saya pun
mengerti bagaimana rasanya tersakiti.
Kita begitu dekat, tapi hati kita tidak
terikat. Agar tak ada yang terbebani, saya putuskan untuk mencintainya
dalam keikhlasan, merelakan dia lewat gambar dan tulisan.
Kami sering berkesenian bersama-sama, dan bertemu
dengannya di ruang seni merupakan sebuah pencapaian yang sangat luar biasa bagi
saya. Hanya melihatnya dari kejauhan saja saya sudah merasa bahagia, apalagi
dapat duduk dan makan bersama di bawah sinar rembulan dan bintang-bintang yang
berjatuhan, serasa kami adalah pasangan yang sholeh
dan sholehah.
Selain pandai dalam menggambar, ternyata dia
juga seorang yang agamis, sangat patuh terhadap norma-norma agama, membuat saya
harus memutar otak 360 derajat untuk menemukan cara mendekatinya. Dari cara
pertama, tentang segala hal yang berkaitan dengan seni, hingga mengharuskan
saya berubah menjadi seorang yang sholeh
nan agamis. Sungguh dia memang seorang Bidadari Surga sampai
mampu mengubah seniman yang sak-sak’e,
luweh-luweh, arogan, sampai menjadi seorang yang rapi
dan agamis namun tetap artsy.
Kini saya sudah tidak dapat lagi berjumpa dengannya,
bahkan berkomunikasi dengannya pun tidak bisa, lha wong akun sosial media saya sudah diblokir
olehnya. Saya tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Mungkin semua berubah setelah
negara api menyerang
Saya telah bertemu seorang Bidadari Surga yang
cantik, berhijab nan artsy.
Sesungguhnya saya mungkin telah jatuh hati padanya. Namun, saya sadar bahwa dia
sudah memiliki pendamping dan terlebih lagi saya tidak ingin menyakiti hati
orang-orang yang juga menyukainya. Karena saya tahu bagaimana rasanya
tersakiti, dan rasanya cinta yang tak terbalas.
Pesan saya kepada Bidadari Surga:
Mungkin ekspetasi saya terlalu besar, berharap kepada
Tuhan kaulah orang yang tepat untuk saya perjuangkan. Tapi sesungguhnya saya
jatuh hati kepadamu, walaupun kamu telah memiliki pendaping hati, ha mbok prekk!! Terserah kau mau percaya atau tidak,
tapi yang saya katakan ini jujur. Saya suka dengan kepribadianmu yang apa
adanya. Sungguh kau Bidadari Surga yang sholehah nan artsy,
yang pernah saya jumpai di dalam mimpiku. Percayalah wahai Bidadari Surga,
bahwa cinta akan bersemi di ruang seni.