Senin, 30 Mei 2016

MENCINTAI DALAM KEIKHLASAN

Kita begitu dekat, tapi hati kita tidak terikat. Agar tak ada yang terbebani, aku putuskan untuk mencintainya dalam keikhlasan, merelakan dia lewat gambar dan tulisan. Merubah kenangan juga harapan melalui kata-kata dan do'a-do'a kerinduan, membawaku bertemu dengan orang-orang baru dan mungkin saja membawaku ke hati yang baru.

Hal yang mustahil akhirnya terjadi, sebab dalam prosesnya hatiku tumbuh untuk merelakan, karena cepat atau lambat, entah maut atau orang lain yang menyebabkan, hubungan selanggeng apapun akan dipisahkan. Maka yang terbaik dari mencintai adalah mengikhlaskan.

Tulisan ini mengandung pesan-pesan yang semoga bisa menerjemahkan perasaan yang selama ini hanya terpendam menjadi rahasia, juga mengatasi kesedihan yang selama ini  bersemayan menjadi bakteri perasaan.

Ketahuilah cinta menjadi indah sebab ketidakpaksaan. Tak perlu banyak alasan atau penjelasan klise atas suatu hubungan. Apa kau tak muak mendengar cerita betapa bahagianya punya kekasih dari muda-mudi yang bahkan bercelana saja masih meminta bantuan sang mami.? Jika iya, kita berpikiran sama. Bahwa cinta ada untuk saling menjaga kenyamanan, bukan gelora kejuaraan untuk dipamerkan.

Seperti itu, begitulah kini aku, menertawai kisah mereka, menangisi dahulu yang kini menjadikan luka.
Tak usah kau tatap gerimis berdua sembari bermanja-manja. Kelak kau akan sadari rintik hujan hanya akan membawamu ke dasar bumi, mengubur harapanmu ke inti magma, membakrnya hidup-hidup dan meledak ke permukaan bersama rasa sakit yang tak tertahankan.

Kini adamu hanya bisa tergambar oleh mimpi dan lamunan.
Rona jingga pun menyingkap langit, waktu memukulku seraya membisikkan kenyataan pahit, bahwa...
Kau Mencintainya.....
Kau Bahagia Dengannya....
Aku rela atas keputusanmu memilihnya, yang aku tak rela hanya kepada siapa kini aku harus mengalamatkan cinta.?

Remuk, hancur berserakan, namun aku tak punya daya untuk pembelaan. Maka biarkan saja luka ini yang berbicara, menumpuk lara, mengubur diri untuk dikabarkan angin ke setiap telinga.
Bahwa pernah hidup sebuah perasaan yang akhirnya mati ditikam kenyataan.

Demikian, Sendirian.

3 komentar:

  1. Widih, keren. Calon penulis masa depan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuma iseng-iseng tok kok mas kokoh :)
      tulisan mas kokoh lebih syahdu wkwkkw

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus